Rabu, 02 Februari 2011

SEJARAH PENDUDUK DESA PETANANG

Pada zaman dahalu yaitu pada masa sultan-sultan di Palembang yang mengembangkan kekuasaannya kelubuklinggau, pada masa / zaman itu di Ulak Libo belum ada raja akan tetapi zaman itu siapa yang paling kuat/gerot itulah menjadi raja/raje. maka pada waktu itu masyarakat dari ulak libo/lebar rombongan dari Nenek Lahitan pindah atau hijrah ke suatu tempat dan belum ada yang menetap, maka sebagian masyarakat ulak libo/lebar hijrah selalu berpindah-pindah lalu rombongan tersebut berjalan menuju ke Petanang dengan menyelusuri/meretas sungai, jarak hijrah yang ditempuh pada waktu itu ± 15 km dari kota lubuklinggau.

Pada waktu hijrah dan masyarakat ulak libo/lebar sebelum menetap di petanang pada sebelumnya meraka menetap di Taba Ran Kilang, arti ran yaitu air yang bercabang/bercaka. Pada masa itu pimpinan di kendali oleh mangku desa/mangku adat dan dipimpin oleh ratu-ratu/marga. Nama pimpinan mangku adat yaitu Kumala Dewa. Kumala yang berarti batu yang berharga.
Setelah menetap sebentar di Taba Ran Kilang maka masyarakat ini meretes menyusuri sungai lalu mereka menetap sebentar di Lubuk Engan lalu tak lama kemudian mereka melakukan hijrah kembali dan sampailah di sebuah imbe/hutan yang belum pernah dijama oleh orang lain akan tetapi tempat yang mereka singga disana banyak sekali kayu petanang. Maka disanalah masyarakat yang berasal dari Ulak Libo/lebar yang menuju perjalanan menetap di Ran Kilang, Lubuk Engan lalu memilih tempat petanang sebagai sebuah desa dan kebun tempat berladang dan bersawah, tak lama kemudian sebagian masyarakat petanang meninggalkan tempat tinggal mereka dan memilih lokasi yang baru, ada yang berladang/betalang di Batu Pepe dan ada yang menetap di Dusun Baru Petanang. Lama-kelamaan tempat Dusun Baru Petanang menjadi dusun dan menetap, akan tetapi tempat mereka tinggal tak jauh dari tempat dusun lama/lame. Hingga sampai sekarang ini Dusun Lame sebagai tempat mencari usaha atau nafkah bagi masyarakat Petanang. Dusun Petanang ini tak lama kemudian sudah mulai ramai dan banyak penduduk lain yang berdatangan untuk menetap dan mencari usaha dan penghidupan.

Masyarakat yang berada di Dusun Petanang ataupun masyarakat lainnya menyebut dusun petanang ataupun mengenal petanang tetaplah dusun petanang karena disebabkan dusun petanang ini banyak terdapat kayu petanang, maka dusun petanang diambil dari kata kayu petanang sehingga menjadi nama dusun petanang.
Sebelum kota lubuk linggau menjadi kota madyah maka desa petanang masih diwilayah administarasi kecamatan linggau Barat, kabupaten Musi Rawas. Dengan adanya otonomi daerah maka desa petanang menjadi kelurahan Petanang dan tak lama kemudian ada kebijakan pemerintah setiap wilayah berhak mengatur wilayahnya sendiri maka kelurahan petanang akhirnya menjadi pusat administrasi pemerintahan didalam kecamatan lubuklinggau utara I dan kelurahan petanang pecah menjadi 2 desa, ada kelurahan petanang ulu dan kelurahan petanang ilir.
Secara administara desa petanang berbatasan
Sebelah utara : Kelurahan Petanang Ilir
Sebelah Timur : Desa Proyek, Belalau I
Sebelah barat : Bedeng, Belalau II
Sebalah selatan : Hutan Lindung

Nama pimpinan yang ada di petanang pada waktu dahulu
1. Raden Mas
2. Pangeran Mas
3. Pertas Tanjung
4. Pak Copet
5. Tan Tamberas (dipinggir air malus)
Diatas adalah nama-nama pemimpin yang pertama sekali yang memimpin Dusun Petanang dan ada juga terdapat penduduk asli yang sudah lama menetap yang pertama kali juga mereka adalah
1. Ali Kedum
2. H. Tekin
3. Aji Pakat
4. Mujin

Pada masa mangku adat pada tahun 1946 dan sampai ke kades maka masyarakat petanang di pimpin oleh Ginde-ginde mereka adalah
1. Pesirah Remitan
2. Ginde Semat
3. Ali Hamad
4. H. Tekin
5. Pak Jono
6. Maharab
7. Ali Matap
8. Ali Kenal
9. Aji Ahad
10. Ali Cambung
11. Jakeb
12. H. Ali Kidam
13. Zainul Abidin
14. Hatta
15. Aji Nur (Botet)
16. Zainul (Pak Pando)
Di masa ginde tersebut mereka juga mempunyai pimpinan juga yang di pegang oleh Pangeran yaitu Bapak Jahil dan dibawahnya adalah Demang sebagai pemegang kekuasaan untuk mengatur masyarakat banyak, masa demang ini pada tahun 1947 hingga akhirnya ada juga Pesirah di Bawah Kekuasaan Demang. Adapun nama pemimpin Pesirah sebagai berikut;
1. Naning
2. Jahul
3. Bamerab
4. Ebol

Masyarakat Petanang juga mempunyai Dukun bayi/beranak dari yang paling tua hingga sampai sekarang ini; nama-nama mereka dalah;
1. Siti Nur Bun (Calik)
2. Nung
3. Jiman
4. Dejut
5. Robiah
6. Cik Mah
7. Limu
Setelah masa kades habis maka berubah alih menjadi pemerintahan yang dipimpin oleh lurah;
1. Cik Ali
2. Riduan
3. Zainal Arifin
4. Muaji Rianto (Aji Klik)
5. Yuni arto (Juni)
6. M. Yunus, SE

Dahulu di Dusun Petanang juga pernah terdapat nama-nama penghulu dan hingga sampai saat ini
1. Ketib
2. P3NTR (Pembantu Pejabat Pencatat Nikah Tolak Rujuk)
3. P3N (Pembantu Pemerintah Pencatat Nikah)
4. P2U (Pembantu Penghulu Umum)
Nama-nama masyarakat yang pernah menjabat menjadi ketib/penghulu di Dusun Petanang dari zaman Ginde hingga sampai Kelurahan sekarang in;
1. Panimbang (1943 – 1942)
2. Ali Kedum (1942 – 1945)
3. Ali Henang (1946 – 1947)
4. Ali Kenal (1947 – 1979)
5. Syukur (1979 – 1981)
6. Syafi’I (1981 – 1983)
7. Malian (1983 – 1990)
8. Dul Anis (1990 – 2005)
9. Baharudin (2005 )

Nama-nama masyarakat sebagai pembantu pemerintahan didalam menjalankan Rukun Tetangga/Rukun Warga;
1. Arizal
2. Yusuf
3. Laham
4. Aji Sefar
5. Zainul
6. Wadiran
7. M. Yusuf
8. Katon
9. Kohir
10. Dul Anis
11. Amran
12. Ali Kawit
13. Sod

Kata-kata nasehat orang tua dahulu
“jangan maling, ngambik hak wang lain, kalo maling dihokom wang dan tabuang”
“benyak ngelong, benyak oleh”
“tototlah kuat, api jengan notot mosoh”
Sejarah dan Kejadian-kejadian Penting

Tahun Kejadian Penting
Jalan sudah dibuat pada waktu zaman belanda
1931 Perkebunan Belalau diambil Belanda dan dijajah dan melakukan perjanjian dengan Belanda, perkebunan tersebut di Sande/Hande oleh Pangeran dengan Belanda dengan Kontrak selama 35 tahun setalah habis masanya maka perkebunan tersebut balik/pulang kembali kerakyat masyarakat Petanang.
 Sebelum 1942 Belanda Masuk Ke daerah Lubuklinggau
1942 Jepang Masuk Ke Indonesia dan ke Lubuklinggau
1945 Indonesia Merdeka
1946 Belanda masuk keindonesian dan ingin menjajah lagi
1962 Perang Saudara PRI
1965 Masuknya PKI
1967 Perang gerombolan polisi tentara kehutanan
1985 Pembuatan DAM
Masyarakat pernah ditangkap harimau, korban jiwa Ani, Darno, Serikat
Masyarakat petanang sudah menggunakan kendaraan mobil,
- H. Tekin
- Aji Lusin
- Bapak Muharap
2002 Desa petanang dimekar menjadi 2, petanang ulu dan ilir
1999 Kantor camat mulai dibangun
Masyarakat Petanang Melakukan Demo Menuntut Kembali Hak Atas Tanah Yang Telah Dijanjikan Kepada Masyarakat Petanang Terhadap Perjanjian Yang Dilakukan Oleh Pangeran Dan Belanda selama 35 tahun untuk dikembalikan lagi kepada masyarakat petanang, akan tetapi hak tersebut tidak sampai ½ bagian yang dikembalikan kepada masyarakat petanang
2003 Rumah Sekolah SMU 3 mulai dibangun
1998 Mulai dibangun Asrama brimob
2008 Terminal Tipe B dibangun dan diresmikan oleh Gubernur Alex Nurdin
2004-2005 Bangunan kantor lurah dibangun
2006 Depag

Bukti sejarah masyarakat Dusun Petanang
1. Bukit Jong, Bentuknya seperti Biduk/Perahu, bersemen dan sebagai tempat untuk mandi.
2. Bukit gah, disebabkan adanya sungai Ngelegah
3. Bukit Angos, bukit ini dikatakan hangus/angos dikarenakan pada musim kemarau bukit ini habis terbakar/hangus semuanya
4. Bukit Jembu/jambu, dikarenakan di bukit tersebut banyak terdapat jambu

Kebudayaan dan Kesenian
Kebudayaan masyarakat Petanang pada waktu dahulu adalah masih memakai cara lama seperti Harkah lame (sedekah lama) yang berfungsi untuk memanggil Penyege/penjaga masyarakat Petanang,
Syarat-syarat Sedekah;
o Ayam Putih Kuning
o Ayam Putih Pucat
o Ayam Kumbang
o Harabi
o Mokot
o Rap Kemiyan

Kesenian yang ada pada waktu dahulu adalah tari menari tari adat seperti;
o Tari Piring
o Tari Atat ( tari berhadapan antara bujang dan gadis)
o Tari silat, kutau

Alat yang digunakan berupa
o Kenong
o Gong
o Kelitang
o Biola

Pendidikan
Pendidikan pada waktu dahulu masyarakat Petanang sudah mengenal sekolah yang tempatnya di sebelah rumah Asif dan guru yang mengajar disana ada satu orang yaitu Pak Romli. Pelajaran yang diajarkan hanya pengenalan huruf saja, dari A – Z dan sehingga huruf tersebut disambung-sambung menjadi sebuah kata-kata supaya bisa dibaca . Alat untuk murid belajar pada waktu itu hanya menggunakan Alat Habak (Batu seperti batu asah) dan alat tulisnya adalah Grib seperti jangka, bila waktu belajar murid-murid menulis tulisan diatas Habak dengan menggunakan Grib akan tetapi setelah selesai menulis tulisan tersebut dihapus kembali dikarenakan pada waktu itu belum ada kertas/buku, pensil, pena untuk dipakai tulis menulis.

Di zaman orde baru hingga tahun 2000_an keatas mengenai pendidikan di kel. Petanang sudah terdapat bangunan sekolah seperti sekolah SD, SMP dan SMU, untuk masyarakat petanang dan disekitarnya sebagai proses belajar didalam menuntut ilmu, mencerdaskan anak bangsa dan juga wajib belajar 9 tahun yang dianjurkan oleh pemerintah indonesia

Kesehatan
Pada tahun 1947 masyarakat Petanang sudah ada Doktor yang menangani kesehatanbagi masyarakat banyak, namanya Pak Junet. Dalam ilmu kedoktoran cara bersunat pada waktu itu masih menggunakan alat tajam berupa Pisau akan tetapi sebelum melakukan sunat orang yang akan disunat harus beremdam terlebih dahulu diair/mandi agar tidak meresa sakit.
Pad tahun ….. pukesmas di Petanang telah dibangun dengan kata nama pukesmas pembantu bagi masyarakat petanang bila ingin berobat. Mantri yang bertugas di desa petanang namanya adalah Pak Arif. Apabila di pukesmas didalam berobat tidak memungkinkan biasanya dari Pukesmas di petanang langsung dibawah ke rumah sakit umum di kota Lubuklinggau.

Setalah otonomi daerah berjalan maka tahap pembangunan pemerintah banyak dialihkan ke arah lubuklinggau utara I dikarenakan lubuklinggau utara I baru dimekarkan menjadi kecamatan dan sebagai pusat kecamatannya kel. Petanang sebagai lokasi admistarasi pemerintahan dari beberapa desa di petanang. Dari otonomi daerah tersebut untuk sekarang ini dapat dirasakan banyak oleh masyarakat bahwa sudah ada dibangun pukesmas yang besar dilokasi petanang ilir sebagai pusat pengobatan bagi masyarakat banyak bila ingin berobat.

Tradisi Masyarakat Petanang
Sampai sekarang ini tradisi masyarakat petanang tak terlepas dari warisan nenek moyang leluhur mereka, dikarenakan warisan tersebut selalu melekat pada anak cucu. Apabila ada masyarakat Petanang ingin membangun/membuat rumah terlebih dahulu mereka harus sedekah terlebih dahulu yaitu sedekah ayam kumbang dan apabila ingin menunggunya maka terlebih dahulu harus pakai tepung (menepung). Pada waktu dahulu jenis rumah yang ada di petanang berupa rumah panggung yang menggunakan banyak kayu dan papan akan tetapi untuk sekarang ini masyarakat petanang banyak menggunakan rumah lepak atau rumah bawah yang berbeton dengan menggunakan bata.

Selain membangun rumah masyarakat petanang juga menggunakan kearifan local didalam berkebun/ume,. Sebelum membuka ume/ berkebun masyarakat petanang melakukan sedekah terlebih dahulu baik dari mulai membuka lahan, menugal padi dan pamennya. Akan tetapi didalam menugal padi didalam menabur padi didalam tugalannya menurut orang tua itu ada bacaannya dan juga didalam ngebat/mengikat padi juga memakai syarat.
Masyarakat petanang mempunyai tradisi dari zaman nenek moyang hingga sampai saat sekarang ini yang tak bisa ditinggalkan oleh kepada anak cucunya sebab tradisi tersebut sebagai warisan leluhur dan selalu melekat, adapun warisan atau tradisi yang ditinggalkan adalah tradisi Sabung Ayam. Didalam sabung ayam ini masyarakat Petanang saling berkumpul terlebih dahulu untuk melihat ayam yang dibawah atau untuk disabung apakah ayam tersebut mempunyai tua ataupun mempunyai celaka, apabila sudah melhat dan tau maka perundingan sabung ayam akan dilakukan dengan satu syarat bahwa ayam yang disabung apabila kalah akan diambil oleh si pemenang.

Sarana dan prasarana
• Bangunan sekolah, SD dan SD N2 sekarang diganti SD 75, SD 76 petanang,
• SLB (Sekolah Luar Biasa)
• Jalan umum sudah beraspal, jalan tani masyarakat masih berupa batu koral
• Kantor lurah, petanang 1 dan 2,
• Kantor camat
• perumahan wali kota
• Asrama Brimob
• Rumah sekolah SMP N 12
• SMU N 3
• TK
• Irigasi
• Pukesmas Petanang
• Terminal tipe B
• Balai desa
• Sumur
• Masjid
• Sepeda motor
• Mobil Pribadi, Taksi dan Tani
• Mesin jahit
• Listrik

Didalam kehidupan sehari-hari masyarakat didalam kebutuhannya terhadap air, masyarakat petanang menggunakan sumur untuk kebutuhan sehari-hari akan tetapi hanya sebagian orang saja yang sering menggunakan air irigasi dari DAM (Air Malus) sebagai untuk tempat mandi, cuci, berkolam dan membuang air besar.

Sarana yang paling menonjol pada masyarakat petanang saat ini adanya tranfortasi sepeda motor sebagai kebutuhan pribadi dan sebagian yang lainnya digunakan untuk mencari usaha seperti digunakan alat ojek.
Baru-baru ini di kelurahan petanang ilir telah dibangun terminal tipe B dan sudah diresmikan oleh Gubernur Palembang yaitu Alex Nuerdin, sebagai terminal untuk tempat usaha dan letak sarana tranportasi dan perekonomian masyarakat untuk mengembangkan usaha. Akan tetapi terminal tersebut belum digunakan sepenuhnya alias belum aktif bagi para pedagang, tetapi bagi kendara roda 4 itu sudah dipungut pajak retrebusinya.

Selain itu masyarakat petanang mempunyai lapangan bolla kaki yang berada di dekat asrama brimob sebagai sarana olahraga masyarakat. Selain permainan bola kaki ada juga permainan volley ball yang permainannya dilakukan hamper setiap sore hari. 

Perekonomian dari sumber daya alam yang ada di dusun petanang
 Petani karet (mayoritas)
 Petani kopi
 Sawah, padi sawah dan darat
 Pedagang
Penduduk petanang pada dasarnya mayoristas mata pencaharinya adalah petani karet, dan padi. Ada sebagian masyarakat yang berkebun kopi. Untuk pertanian irigasi dalam bersawah masyarakat desa petanang mengandalkan air irigasi dari dam Air Malus yang terdapat di desa petanang sehingga irigasi tersebut bisa dialiri sampai 3 desa yaitu, desa petanang ulu, kampung jawa dan petanang ilir.

Program yang pernah dilakukan oleh pemerintah
 Perbaikan irigasi
 Pembuatan siring
 Pembuatan jalan setapak
 Pembuatan Jalan Ke TPU
 Pembuatan pagar masjid
 Pembuatan WC umum
 Perbaikan Irigasi Persawahan melalui siring-siring kecil

Selain instruktur pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah kelurahan ada juga program yang dilayani yaitu Bantuan Langsung Tunai (BLT) Bagi masyarakat yang miskin ataupun tidak mampu. Untuk mendapatkan bantuan BLT tersebut sudah dilakukan survey dan kreteria masyarakat seperti apa yang akan mendaptkan BLT tersebut. Dari data yang diperoleh masyarakat yang mendapatkan BLT tidak hanya dilihat dari segi rumah ataupun kekayaan yang dimiliki akan tetapi ada juga penghasilan masyarakat dibawah Rp 700.000 per/bulan, maka masyarakat tersebut bisa mendapatkan BLT.

Tukang bangunan
• Yusuf
• Junin
• Edi Yum
• Heru

Lembaga desa
o Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM)
o Pemberdayaan Sosial Masyarakat (PSM)
o Karang Taruna

Sumber Data,
(Bapak Seher, H. Ali Kidam, Tarmizi, A. Rizal (ketua LPM), Hendra, Edi, Sanca, Abil)
Penelusi Sejarah : Abil

Selanjutnya......

Senin, 26 Juli 2010

Ular Muncul Untuk Kodok

Cerita Rakyat

Ada sebuah cerita yang sangat unik tetapi mengandung makna yang luar biasa. Dibawah rerumpunan tumbuhan disisi sebuah danau, hiduplah sekelompok kodok… Disana hidup seekor induk kodok dengan tiga anaknya. Induk kodok berkata : “ langit ada untuk kita, bumi ada untuk kita sehingga kita punya tempat tinggal ..! “ Menyenangkan… menyenangkan..menyenangkan para anak kodok bersorak gembira. “Air datang untuk kita, udara hadir untuk kita,” lanjut induk kodok berceramah. Asyik…! Asyik, asyik…! Sahut anak-anak kodok. Selanjutnya “Serangga terbang untuk kita, buah tumbuh untuk kita para kodok-kodok..” kata induk kodok sambil menikmati serangga yang dimakannya. Nikmat…nikmat..nikmat…!!! teriak anak-anak kodok bergembira menikmati makanannya. Wuzzzz…!! Tiba….tiba seekor ular mendadak menyambar ingin memangsa para kodok. Induk dan anak-anak kodok berlarian ketakutan…lari ada ular..!! . Tetapi salah satu anak kodok menjadi mangsa dari si ular. “ Mengerikan! Kasihan si kodok kecil yang malang !! menakutkan ! kata induk kodok bersama anak-anak kodok lainnya. Si ular dengan langkah dan bibir tersemyum pergi meninggalkan para kawanan kodok. “ Jangan bilang ular muncul untuk kita juga ? protes anak-anak kodok pada induknya. Induk Kodok berkata dengan bijaksana : “ benar, ular muncul dan datang untuk kita para kodok-kodok”. Jika tidak ada ular, para kodok akan menghabiskan segalanya dan menjadi terlalu banyak. Sehingga nanti tidak akan ada tempat untuk tinggal lagi,” lanjut induk kodok bijaksana. “Benar juga, ya..!” sahut para anak kodok berbarengan.

Dari cerita tersebut diatas dapat memberikan makna yang mendalam buat kita, bahwa segala sesuatu yang ada dialam semesta ini terdapat dua sisi yakni sisi baik dan buruk. Tidak ada baik atau buruk yang tetap di dunia ini. Setelah sesuatu terjadi, semuanya tergantung pada bagaimana kita memandangnya…baik atau buruk. Orang yang bijaksana dapat melihat sisi positif dari semua hal yang terjadi, apakah itu merugikan kita atu tidak ?. Tetapi kita sebagai manusia sering terjebak oleh egoisme kita sendiri, sehingga kita selalu hanya ingin menerima sesuatu yang baik saja yang terjadi pada diri kita, kita hanya mau menerima kegembiraan, kesejahteraan dan sebagainya, tetapi kita selalu menolak segala keburukan, kegagalan dan sebagainya. Sikap demikian adalah hal yang wajar saja, tidak mungkin ada orang yang lebih senang menerima keburukan dibanding dengan kebaikan, semua orang pasti menginginkan segala sesuatunya berjalan dengan baik, tetapi sering kali dalam perjalanan hidup ini segala hal yang tidak terduga terjadi. Kebahagiaan, penderitaaan selalu datang silih berganti, ini merupakan sebuah paket hidup yang harus kita terima.

Dikatakan sebagai PAKET HIDUP karena Penderitaan tidak mungkin kita elak dan kebahagiaan juga tidak mungkin bisa kita tolak, ada penderitaan pasti ada kebahagiaan, ada kebahagiaan pasti ada penderitaan . Jika kita bisa memilih dalam hidup ini, pasti semua orang akan memilih Paket Hidup yang isinya hanya kebahagiaan saja, tetapi mungkin kah hal itu terjadi ? Buddha mengatakan hidup ini adalah penderitaan, jadi hidup adalah lingkaran penderitaan karena manusia lebih dikuasai oleh hawa nafsunya. Penderitaan timbul karena hawa nafsu seperti kemarahan, kebencian, keserakahan, keirihatian dan sebagainya. Hawa nafsu tidak mungkin bisa kita hilangkan tetapi hawa nafsu bisa kita tingkatkan manfaatnya. Hal ini kita kenal dengan prinsip “Hawa Nafsu adalah Kesadaran”. Jadi rumusnya untuk mencapai kebahagiaan adalah kita harus dapat mengambil hikmat baik dari setiap kejadian dan meningkatkan kualitas jiwa kita dengan merubah hawa nafsu menjadi kesadaran. Jadi disini yang dimaksud adalah Hawa Nafsu yang Positif.

Seperti cerita kodok diatas bahwa semua itu ada adalah untuk kita, penderitaan ada untuk kita, kebahagiaan ada untuk kita dan sebagainya. Bukankah hidup ini menjadi lebih berarti jika ada kedua-duanya, “ Semakin besar penderitaan maka semakin kuat jiwa kita untuk dapat menghadapi segala rintangan yang terjadi kemudian.” Kita mungkin pernah melihat anak kecil yang sedang belajar berjalan. Setiap kali ia jatuh maka tubuhnya menjadi semakin kuat, begitu seterusnya sampai kemudian ia mampu berjalan. Menurut penelitian bahwa bayi yang sedang belajar berjalan, sangat baik jika ia mengalami kejatuhan, karena setiap kali ia jatuh maka seluruh tubuhnya akan merespon sehingga ia menjadi semakin kuat kakinya. Seharusnya kita juga demikian, semakin besar penderitaan yang kita alami semakin besar pula seharusnya semangat kita , kekuatan kita dan daya tahan kita terhadap penderitaan tersebut.

Nichiren Daishonin mengatakan : “ Believers of the Lotus Sutra are like Winter, Winter which never fails to turn into Spring. Never have I heard of a beleiver of the Lotus Sutra who remained only a common mortal..." ini berarti bahwa tidak mungkin sebuah penderitaan itu tidak ada akhirnya, kita harus mampu menerima penderitaan itu dengan hati yang tenang, sehingga kita dapat mengatasinya. Ketika kita menghadapi penderitaan, sikap yang seharusnya kita tunjukkan adalah sikap sebagai seorang Bodhisatva Muncul Dari Bumi. Yang menjadi masalah adalah ketika kita menghadapi sebuah kenyataan atau hal yang buruk, kita selalu menilai semua itu buruk tetapi kita tidak pernah berpikir secara positif bahwa apa yang terjadi sekarang ini adalah Buah Karma yang telah kita buat dan hanya merupakan akibat yang harus terjadi. Kita harus melihat sebuah persoalan dari kaca mata Buddha, bahwa segala sesuatu itu adalah baik untuk kita sebagai contoh ; kalau sekarang ini kita bangkrut karena ditipu orang lain, maka kita harus terima itu sebagai kenyataan bahwa semua ini bisa terjadi karena keserakahan kita, keteledoran kita sendiri dan sudah pasti untuk masa akan datang kita harus lebih hati-hati agar tidak terjebak untuk kedua kalinya. Ketika kita menghadapi sebuah penderitaan mestinya kita harus semakin dekat dengan Buddha. Dekat dengan Buddha maksudnya adalah bahwa kita harus lebih sungguh-sungguh percaya pada Gohonzon dan mau menjalankan kata – kata Buddha dengan lebih baik lagi.

Berikut ini saya mendapatkan sebuah bimbingan yang sangat berharga dari seseorang teman saya dari itali : “ Sometimes, however, problems area a gift. Of course we suffer because of these problems. But if it changes our life and we later become much happier, then the problem was in stead a great gift or benefit, that leads us to happiness. Right now, you are having a very difficult time. But as a result of your suffering, you have decided to try and become closer to real Buddhist faith and practice, closer to the Buddha's heart, so as a result, eventually you can attain enlightenment. In this way, maybe the problem has been leading you to the Buddha in order to make you become happier and happier.” Ini berarti bahwa kita harus menganggap penderitaan itu sebagai sebuah kado / hadiah, kita memang menderita karena persoalan ini tetapi jika kita ingin merubah hidup kita dan kemudian menjadi lebih bahagia maka anggaplah permasalahan itu seperti sebuah hadiah dan keuntungan, maka kita akan menjadi bahagia. Sekarang memang kita sedang menderita dan berada dalam kondisi yang sulit tetapi kita harus mencoba dan datang lebih dekat kepada semangat seorang buddhis dan pelaksanaan, lebih dekat dengan hati Buddha, maka sebagai hasilnya kamu akan mendapatkan jalan pemecahaanya. Mungkin saja kesulitan atau permasalahan ini merupakan sebuah jalan untuk kita menjadi lebih bahagia dan bahagia. Penderitaan adalah Hadiah untuk kita menjadi lebih bahagia pada masa mendatang.

Bagaimana caranya agar kita mampu menerima penderitaan itu seperti sebuah Kado / Hadiah yang baik buat kita ? memang bukan hal yang mudah, tetapi jika kita punya kemauan dan ingin merubah hidup kita, pasti kita akan mampu melewatinya.
  1. Percayalah Bahwa Penderitaan itu Hanya Sementara. Kebanyakan orang tidak mampu dan punya kekuatan untuk keluar dari penderitaan karena ia terlalu persimitis, tidak punya sebuah semangat pun dalam hatinya, yang ada hanya keluhan, kritikan, gerutuhan dan sebagainya. Ia selalu berpandangan bahwa sudah menjadi nasib hidupnya seperti ini, sehingga ia merasa tidak mungkin mampu merubah hidupnya lagi. Untuk keluar dari kesulitan, kita harus percaya bahwa di dunia ini tidak ada yang kekal begitu juga dengan penderitaan, hidup ini ibarat sebuah roda yang berputar, adakalanya kita dibawah tetapi adakalanya kita diatas. Kehidupan boleh berubah tetapi semangat dari hati harus seperti poros sebuah roda tetap tidak bisa dirubah-ubah. Semangat untuk hidup harus kita munculkan sehingga kita bisa memunculkan hati yang tenang dan prajna untuk keluar dari kesulitan.
  2. Kesulitan adalah Kado yang Tak Ternilai. Kita mungkin pernah mendengar bahwa Pengalaman adalah Guru yang Terbaik, semakin kita sering menderita maka akan semakin besar kebahagiaan yang pasti kita peroleh. Kita harus selalu belajar dari kesulitan dan permasalahan maka kita tidak akan pernah lagi menghadapi kesulitan yang sama. Orang bijak tidak jatuh kedua kalinya dalam lubang yang sama. Terimalah penderitaan sebagai penderitaan, nikmatilah kebahagiaan sebagai sebuah kewajaran, itulah kata-kata yang harus kita ingat dan ikuti.
  3. Semakin Kuat dalam Hati Kepercayaan. Perkuat hati kepercayaan kita kepada Gohonzon dan daimokulah selalu, karena ketika kita sedang dalam kesulitan, jiwa kita berada dalam tingkat yang terendah dan tertekan sehingga kita sulit menemukan jalan keluar (prajna) untuk mengatasinya. Ketika kita mendapatkan sebuah kesulitan sama seperti kita jatuh ke dalam sebuah sumur yang dalam, suasana yang gelap dan dingin membuat kita tidak punya sebuah kekuatan pun. Daimoku adalah ibarat sebuah tali yang diturunkan kedalam sumur yang akan membawa kita keluar dari dalam sumur yang gelap, sama seperti sebuah nyala lilin dalam kegelapan. Jadi duduklah didepan Gohonzon dan sebut Daimoku dengan seluruh kesungguhan hati, pasti kita akan mampu keluar dari kesulitan tersebut.
  4. Kesulitan Besar adalah awal dari Kebahagiaan Besar. Apakah ada sesuatu yang mudah di dunia ini ?, sejak kecil kita juga sudah harus berjuang untuk hidup, demikian juga untuk mencapai sebuah kebahagian dalam hidup juga harus disertai perjuangan yang tidak sedikit. Ketika kita menghadapi sebuah kesulitan hendaknya kita harus melihat hal itu secara positif dan jernih dan kita harus yakin bahwa dibalik sebuah kesulitan pasti terdapat kebahagian. Menderita atau Bahagia semuanya terdapat dalam suasana jiwa kita yang terjadi akibat dari hubungan kita dengan dunia luar atau lingkungan kita. Jadi yang menjadi masalah bukan lingkungannya tetapi perasaan diri kita sendiri, sebagai contoh ; pada jaman dulu, orang tidak punya handphone bukanlah sebuah penderitaan tetapi saat sekarang banyak generasi muda yang tidak dapat memiliki handphone menganggap hidup mereka menderita, semua ini karena ketidakkendalian hawa nafsu kita sendiri.
  5. Tidak ada yang sempurna. Salah satu sumber penderitaan kita adalah selalu mengharapkan orang lain sempurna seperti apa yang kita inginkan. Semua orang harus kelihatan sempurna, tidak boleh ada sedikitpun kesalahan dan ia selalu merasa dirinya paling benar, paling sempurna dan sebagainya, semua ini adalah sikap-sikap dari dunia kesombongan dan egoisme yang kuat. Ketika ia melihat orang lain tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan maka ia menjadi menderita. Buanglah sikap seperti ini karena tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini dan tidak mungkin ada gading yang tidak retak. Jika kita dapat mengatasi sikap yang satu ini, maka hidup kita menjadi lebih tenang dan bahagia.
Kebahagian akan datang jika kita bisa seperti cerita kodok diatas, semua itu datang untuk kita, jadi terima itu dengan jiwa yang penuh dengan kekuatan Dunia Buddha. Segala sesuatu itu ada hal baik dan buruk, yang buruk adalah baik untuk kita menjadi lebih baik dan yang baik harus kita jadi untuk tidak terpesona dan terjebak dalam kesombongan. Baik dan buruk adalah dua hal tetapi keduanya adalah hal yang baik buat kita. Ada keburukan baru ada kebaikan, ada derita baru ada kebahagiaan. Jadi kembali ke kata-kata induk kodok “ Bahwa Ular itu Ada Untuk Kita”.Gassho.

Selanjutnya......

Padang Bano !

Padang Bano! Antara Komoditi Politik dan Keinginan Masyarakat?
Oleh: Team JEJAK AKAR

Akarnews. Apa yang terjadi dengan suatu permasalahan yang dibungkus dengan kepentingan masyarakat namun isinya adalah demi memenuhi kepentingan seseorang atau suatu kelompok semata? Demikian kiranya dengan konflik tapal batas antara Kabupaten Lebong dengan Kabupaten Bengkulu Utara.

Konflik ini bermula disahkannya UU Nomor 39 tahun 2003, yang menjadi dasar hukum pembentukan Kabupaten Lebong dan Kepahyang yang merupakan pemekaran dari kabupaten induk yakni Kabupaten Rejang Lebong, yang pasca pemberlakuaanya mencuatkan Konflik Tapal Batas.

Menurut Mashuri yang ditemui team Akarnews, tempo hari di kediamannya di Desa Muara Ketayu, mengatakan bahwa konflik tapal batas adalah semata-mata konflik elitis yang membawa masyarakat terlibat didalamnya tanpa memiliki arahan yang jelas. Kemudian beliau menambahkan, ‘bukti hal tersebut adalah adanya DPT ganda di setiap proses pemilihan Umum, baik itu PILKADAL, PILPRES maupun PILLEG, hal ini ditambah lagi dengan adanya kandungan bahan mineral seperti batu-bara di beberapa desa yang termasuk ke dalam wilayah konflik, tentu hal ini akan menguntungkan elit-elit daerah, baik itu elit pemerintah Kabupaten BU maupun elit daerah Kabupaten Lebong’.

Tanggapan lain yang hampir senada adalah dari seorang warga masyarakat Padang Bano, yang bernama Pak Budi, menurut beliau bahwa kami masyarakat tidak penting daerah ini masuk Kabupaten Lebong atau Bengkulu utara, toch saja kondisi kami tetap seperti ini saja, kemudian ketika Akarnews menanyakan adanya kelompok masyarakat yang berdemo mengata-namakan dari perwakilan masyarakat Padang Bano, Pak Budi mengatakan tidak tahu menahu mengenai adanya forum yang mengatas-namakan masyarakat Padang Bano tersebut.

Sedangkan menurut saudara Erwin S Basrin dari Yayasan Akar, yang dahulu pernah terlibat secara lansung dalam proses penanganan konflik tata batas Padang Bano menuturkan bahwa, konflik ini sebenarnya tidak bisa dilihat begitu saja semenjak daerah Lebong dimekarkan menjadi Kabupaten, ada tinjauan sejarah yang harus dilihat yang nantinya akan memperjelas semua permasalahan, misalnya kejadian yang terjadi di zaman Penjajahan Belanda yang mememecahkan masyarakat adat Rejang kedalam system marga-marga. namun jika hal ini dilihat pada proses kejadian hari ini maka ada beberapa hal penyebab sengketa tata batas tersebut masih terjadi yakni, Pertama konflik yang ada merupakan imbas dari kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan baik berupa produk Perundang-Undangan yang dikeluarkan seperti UU No 5 Tahun 1974 tentang Pemerintah Daerah,UU nomor 4 tahun 1967 diganti dengan UU No 41 tentang Pokok-Pokok Kehutanan. Kedua dalam penetapan pembagian keruangan kawasan tidak pernah melibatkan masyarakat di daerah tersebut (masyarakat local/masyarakat adat), hal ini bisa dilihat dari acuan peta dan tata ruang wilayah Provinsi Bengkulu yang telah direvisi, dan sekarang masih dalam tahap perumusan kembali, bahwa acuan yang dipakai adalah acuan batas TGHK padu serasi kawasan oleh Menteri Kehutanan melalui Kepmen;Nomor.420/kpts-II/1999 tentang Penunjukan Kawasan Hutan Di wilayah Provinsi Bengkulu seluas 920.964 ha.

Ketiga proses penyelesaian konflik yang dilakukan oleh pemerintah, lebih merupakan proses suatu solusi yang berorientasi pada kepentingan pengelolalaan wilayah konflik, bukan demi kesejahteraan rakyat, hal ini berimbas pada semakin meruncingnya konflik pada tingkatan masyarakat diwilayah konflik. Hal yang dikembangkan pemerintah juga lebih mengarahkan pada suatu pengakuan administrative, tidak pada tingkatan pembuktian kebenaran yang akan mengangkat derajat masyarakat adat suku Rejang, khususnya masyarakat Selupu Lebong, Ke empat, organisasi-organisasi masyarakat yang ada di wilayah konflik, juga lebih merupakan representasi dari kedua kabupaten yang berkonflik, hal ini telah menimbulkan suasana yang tidak kondusif bagi masyarakat, dimana sudah muncul saling kecurigaan antara masyarakat yang pro pada Kabupaten Bengkulu utara dan masayrakat yang pro pada Kabupaten Lebong.

Ke lima, pemahaman organisasi-organisasi yang ada di masyarakat di wilayah konflik juga merupakan suatu pemahaman yang bias kepentingan sehingga permasalahan yang menjadi munculnya konflik yaitu pengakuan akan wilayah kelola masyarakat itu semakin terabaikan. Pemerintah yang seharusnya dapat memfasilitasi terwujudnya kesejahteraan masyarakat, dalam prosesnya ternyata telah terjebak pada status pengakuan administrative akan wilayah Padang Bano.

Kemudian ketika ditanyakan mengenai permasalahan DPT ganda dan gugatan salah satu Calon Bupati pasca pilkada 3 juli 2010 kemaren, Erwin cuma menjawab bahwa hal itu adalah sekedar dampak dari proses penanganan konflik yang setengah hati dan hanya berdasarkan pada status penguasaan wilayah secara administrative semata, sehingga masyarakat Padang Bano Cuma dijadikan komoditi politik disetiap prosesi peralihan kekuasaan di daerah.

Berdasarkan temuan Akarnews di lapangan, melihat pada proses pemilihan legislative dan presiden silam menemukan kejadian bahwa masyarakat Padang Bano memilih di dua TPS, satu TPS Kabupaten Bengkulu Utara satu lagi di TPS untuk Kabupaten Lebong, maka melihat situasi dari kekisruhan konflik tata batas ini, memang harus cepat diselesaikan agar jangan sampai terjadi double bourden, pada masyarakat Padang Bano, yakni terjadinya pemberlakuan dualisme hukum dan kebijakan antara Kabupaten Bengkulu Utara dengan Kabupaten Lebong, termasuk dalam hal klaim DPT yang pasca PILKADA silam kembali mengalami kericuhan.

Sebagai catatan disini adalah, masyarakat Padang Bano sampai pada hari ini belum memiliki NIK dan system registrasi kependudukan yang sah, dalam artian posisi kependudukan secara hukum pada masyarakat padang bano masih berada pada status yang dipertanyakan, akibat dari ketidak jelasan keputusan yang menjelaskan posisi wilayah Administrative Wilayah Padang Bano berada di kabupaten mana, apakah kabupaten Bengkulu utara atau Kabupaten Lebong. (TARR)


Selanjutnya......

CERITA KEHIDUPAN PRIBADIKU

Nama saya Rahabillah Firdha, tempat tanggal lahir Kel. Petanang ulu 3 Juli 1986 di Kota Lubuklinggau. Panggilan sehari-hari dalam keluarga adalah Abil atau Habil, saya anak ke-2 dari 4 saudara (laki-laki semua) tetapi saudara kami laki-laki semua anak pertamanya namanya Sanca Firdaus, kedua Rahabillah Firdah, ketiga Randi Satria dan yang ke empat namanya Dalung Putra. Sejak kecil saya tinggal di lubuklinggau yang bertempatan di Kel. Petanang Ulu, Kec. Lubuklinggau Utara 1 Kota Lubuklinggau. Sebanarnya orang tua saya berasal dari suku yang berbeda, kalau bapak berasal dari Lubuklinggau sedangkan ibu saya dari Desa Noman, Muara Rupit.

Di kelurahan Petanang ini saya disekolahkan oleh kedua orang tua saya dari kelas 1 SD (Sekolah Dasar) sampai kelas 2 SD, kemudian dilanjutkan pindah sekolah di daerah ibu saya namanya desa Noman, Muara Rupit. Disana kehidupannya tidak jauh berbeda dari kehidupan yang ada di Lubuklinggau akan tetapi hanya berbeda bahasa saja. Tak lama kemudian hanya 1 tahun saya di desa noman setelah itu kami pindah lagi ke Lubuklinggau Desa Petanang, dari sinilah saya meneruskan sekolah saya hingga menyelesai tamat Sekolah Dasar Negeri 2 Lubuklinggau Barat.

Dari tamat sekolah dasar ini saya belum memilih sekolah yang mana harus saya jalani dan terserah apa mau orang tua, sehingga orang tua saya memutuskan untuk di sekolahkan di Pondok pesantren saja, harapan besar telah ditumpuhkan kepada saya, untuk bisa menjadi anak yang patuh kepada orang tua dan dari ilmu tersebut bisa diajarkan kepada adik-adik saya sehingga bisa dikatakan ilmu yang bermanfaat.

Di Asrama saya tinggal dari kelas 1 MTS hingga sampai kelulusan di Sekolah ini, kehidupan di asrama banyak sekali tantangan dan pengelaman saya mengenai kehidupan bersama teman-teman perantau yang sama-sama mencari ilmu. Di asrama sebenarnya aturan-aturan sangatlah ketat dan apabila aturan tersebut dilanggar maka hukuman telah menantikan kita. Sebenarnya disana jadwal telah disediakan atau telah ditempel didinding-dinding ruangan sehingga santri-santri yang lain bisa melihat dan memahami dari apa aturan yang telah dibuat oleh Pimpinan Pondok. O ya dipondok ini dipimpin oleh Pimpinan Pondok namanya Ustadz Sultoni, Ibu Zubaidah, ayah H. Kemas Hanan dan beserta jajarannya yang berasal dari jawa.

Tinggal diasrama banyak sekali mengisahkan kisah sedih ataupun duka yang terjadi pada diri kita, disana kita tidur dari jam 11 atau 12 malam dan bangunnya jam 4 pagi, dari jam 4 pagi semua santri haruslah bangun shubuh untuk mempersiapkan diri untuk menunai ibadah sholat shubuh. setelah sholah shubuh selesai maka dilanjutkan belajar membaca Al-qur’an yang dimulai dari belajar iqro’ sampai belajar Tafsif, bila siang harinya digunakan untuk belajar sekolah, atau Madrasah Tsanawiyah dan juga Aliayah. Di Pon-pes ini santri-santrinya terbagi menjadi 4 kelompok,
  1. Kelompok pertama adalah Kelompok A yaitu kelompok santri-santri yang belajar Tafsir dan sudah kelas atas
  2. Kelompok kedua adalah kelompok B yaitu kelompok santri-santri yang belajar Seni Baca Al-qur’an dan belajar tafsirnya juga
  3. Kelompok ketiga adalah kelompok C yaitu kelompok santri-santri yang baru memulai belajar membaca Al-qur’an beserta Tajwidnya
  4. Kelompok keempat adalah kelompok D yaitu kelompok santri-santri yang baru mengenal Huruf Al-qur’an atau Hija’yah dan ia baru dikenalkan dengan Iqro’ beserta tajwidnya juga.
Bagi santri yang baru saja masuk sekolah atau menjadi murid, santri di pondok ini mereka dipilih oleh Ustad atau diseleksi untuk bisa dikelompokkan belajar membaca Al-qur’an. Disana saya akui bahwa didalam mengaji atau membaca Al-qur’an bahwa saya tidak mengerti dan hanya mengenal hurupnya saja dan itu saya dapatkan dari guru-guru ngaji saya di desa tempat kampong halaman saya. Dari seleksi tersebut maka saya di kelompokkan di kelompok D (kelompok yang belajar dari tingkat dasarnya terlebih dahulu) supaya lebih memahami huruf Al-qur’an beserta panjang pendeknya (tajwidnya), belajar iqro’ ini memakan waktu 1 tahun bagi saya untuk bisa naik kekelompok C (kelompok yang memulai belajar Al-qur’an). Memasuki ajaran baru dan saya sudah naik kekelas 2 MTs (Madrasah Tsanawiyah) maka kelompok pengajian saya dinaikan kekelompok C karena sudah memenuhi persyarakatan, maka dari kelompok C ini sebenarnya dibanyakkan untuk bisa mengetahui tajwid didalam membaca al-qur’an. Belajar di kelompok C ini ternyata menyenangkan sekali karena setiap orang harus maju satu persatu untuk membaca ayat-ayat yang telah diajarkan oleh Ustadz atau Ustadza kepada kami dari 1 ayat ke ayat selanjutny, dan apabila cara membacanya tidak benar maka kita harus membenarkanya secara berulang-ulang sehingga kita semua bisa dengan lancar membaca ayat tersebut. Setelah waktu berjalan 1 tahun lamanya dan memasuki ajaran baru lagi, maka saya sudah memasuki kelas 3 MTs (Madrasah Tsanawiyah) dan pelajaran mengajinya juga dinaikkan sesuai dengan seleksi ustadz yang mengajar saya karena setiap tahunnya semua itu sudah diperhitungkan dan dinilai pada saat menghadap ustadz. Dengan senang hati saya bisa belajar di kelompok B yaitu belajar membaca seni baca Al-qur’an bersama teman-teman. Pada waktu belajar seni baca Al-qur’an kita harus bisa mengatur pernapasan kita sehingga bisa tahan 1 napas saja dan kalau itu tidak sanggup maka ayat tersebut diulang kembali sesuai dengan aturannya. Dari sini sudah terlihat siapa-siapa saja yang bisa dan suaranya berhasil mengalunkan suara dan mengatur pernapasan hasilnya lebih baik sesuai dengan makhrojul Huruf atau Tajwidnya.

Ini adalah cerita pengelaman pribadi saya selama ada di Pondok-pesantren Ittihadul Ulum (Gudang Ilmu) dan diatas adalah jadwal pengajianya saya, lalu selain itu juga kami belajar pendidikan Diniah yaitu pendidikan agama islam dari mulai jam 8.30 hingga sampai jam 11 siang dan ini setiap hari dilakukan selain hari minggu karena hari minggu digunakan untuk istirahat dan kebersihan. Adapun Pelajaran yang telah diajarkan kepada kami yaitu Ilmu tajwid, Qur’an Hadits, Aqidah akhlak, Buhuhul Marom, Tafsir Jalalen, Fiqih, dll.

Disana waktu sangatlah terjaga karena waktu sudah dibatasin dan aturan sudah ditetapkan sebelum kami ada di sana dan bila pagi harinya kita semua mengambil nasi sesuai dengan porsi dan jatah yang ada misalnya nasinya hanya 1 mangkok/piring maka yang lain akan mendapatkan 1 mangkok/piring juga, dan sayurnya juga begitu. Kalau kita bandingkan dengan dirumah jauh sekali dengan masakan ibu kita dirumah karena enak, sedangkan masakan disana terkadang asing, terkadang tawar. O ya untuk menu sarapan dipagi harinya biasanya adalah nasi goreng + satu kerupuk dan itu terus menerus dan sekali-sekali mie juga dan bila siang harinya menu ini juga tidak teratur, terkadang sayur kubis, labu siam, sawih, kacang dan lain sebagainya,l pokoknya semua itu mengandung sayur-sayuran. dan bila sore harinya untuk makan malam biasanya ini sedikit enak-enak juga menunya terkadang, sambel tempe, tahu, ikan asing, telur dan sekali-sekali daging juga. O ya kami santri disana sering juga diundang juga oleh sebagian orang yang hajatan ataupun acara pernikahan, sedekahan, yasinan, tadarusan dll. Menurut orang yang telah mengudangkan kami atau pon-pes tempat kami belajar bahwa do’a yang dipajatkan dan keinginan yang belum tercapat maka cepat tercapat dengan kata istilah do’a santri mudah terkabulkan.

Di pon-pes ini saya mempunyai pengelaman yang tak kan pernah terlupakan adalah pada waktu sebelum sholat subuh dan hampir semua orang kesiangan bangun pagi dan kami semua di sebat/dipukul pakai sebilah kayu rotan oleh bapak dan ibu pimpinan kami di asrama, meskipun kayu rotanya adalah kecil dan rasanya sangat menyakitkan dan juga menimbulkan bakat sebentar dikaki dan spontan semuanya terbangun dari tidur dan bergegas mengambil air wudhu untuk pergi ke Mushollah untuk menunaikan ibadah sholat Subuh dan bila malam harinya kami semua santri belajar bersama yaitu ilmu hadist, tafsir dan riwayat-riwat hadist tentang cerita perbuatan yang baik dan yang buruk, sehingga menjadi contoh buat kita semua.

Setelah selesai menempuh pendidikan menengah pertama atau MTs, saya selanjutnya tidak lagi tinggal di Asrama dan saya melanjutkan SMA yaitu Madrasah Aliyah Negeri 1 Kota lubuklinggau (MAN I) yang sekarang ini menjadi MAN Model sebagai sekolah percontohan dan jarak sekolahan ini tidak jauh dari rumah nenek saya hanya berjalan kaki saja dan sehingga kalau hitung-hitung penghematan biaya juga terutama ongkos pulang pergi untuk menuju sekolah MAN I dan Dirumah bersama keluarga, ada nenek, mamang, bibik, dan adik saya juga. Tahun pertama masuk sekolah MAN 1 lubuklinggau saya juga ikut organisasi Rohis, Teater dll, kami juga sering mengadakan namanya Tafakur Alam dan jalan-jalan bersama teman-teman untuk melihat kawasan wisata kota lubuklinggau. Mengikuti teater seni ternyata sangatlah menyenangkan sekali karena disana semua peran diperagakan dan dipraktek secara langsung dan tidak boleh ragu-ragu untuk bisa tampil yang lebih maximal. Di dalam teater ini ada juga seni vokal dan suara kita harus diuji terlebih dahulu dan kami sebagai murid baru di ajak oleh Pak Martue untuk bisa mengeluarkan suara atau untuk mendapatkan vokal yang hidup misalnya menyebut huruf vokal A, I, U, E , O dan menyebut huruf ini haruslah berulang-ulang sambil berteriak-teriak di tempat air terterjun di kawasan Wisata Watervang kota Lubuklinggau.

Dalam pendidikan baru itu hanya ada 2 semester untuk bisa naik ke kelas 2 nya. dalam satu semester nilai saya hanya mencapai standar saja akan tetapi masih masuk termasuk 10 besar juga, walaupun sedikit bodoh dari yang pinter-pinter. Memasukin semester ke 2 adalah kenaikan kelas 1 untuk bisa naik ke kelas tiga dan pada waktu itu nilai saya sangat memuaskan sekali hanya mendapat rengking 3 dari 10 besar. Memasuki ajaran baru, lokal baru, teman-teman juga baru kami di bagi beberapa kelas dan kami mendapat kelas yang pertama yaitu kelas 2 1 kalau kemaren kelas 1 nya mendapat lokal/ruangan kelas 1. 3 dan sekarang adalah lokal awal. Dari kelas 2.1 ini semua siswa harus bersaing untuk mendapatkan peringkat yang lebih baik atau yang berhasil karena di kelas 2.1 ini persaingnya sudah Nampak untuk bisa mendapat nilai yang maxsimal dan hasilnya yang diharapkan, dalam semester pertama nilaiku meningkat sekitar 10 angka dari kelas 1 yang kemaren akan tetapi rengking kita hampir standar di atas 10 keatas dan ini menjadi pelajaran bagi saya untuk bisa giat kembali belajar. Sebanarnya kelas 2 1 ini adalah tempat-tempat siswa-siswa yang mendapat peringkat atau rengking dari 1 sampai 3 yang sudah dipilih oleh wakil kepala sekolah dan otomatis persaingan untuk bisa mencapai nilai yang tinggi harus berusaha dan berjuang keras. Semester pertama telah menjadi pelajaran bagi diriku untuk bisa lebih giat lagi didalam belajar untuk bisa naik ke kelas 3. Memasuki semester genap dan akan ada penaikan kelas dan hasil nilai saya juga naik akan tetapi rengking 20-an ke atas dan ini membuat diriku pasrah saja dan berpikir saya kurang belajar dan kurang memahami pelajaran tersebut dan pada waktu itu nilai saya yang jatuh pada mata pelajaran bahasa inggris dan mematika karena di dalam bidang pelajaran tersebut di otak saya kurang menangkap dan pada akhirnya sampai sekarang masih menghantui didalam pikiran saya. Dari kelas 1 sampai ke kelas 2 dan pada akhirnya naik juga ke kelas 3 MAN I Lubuklinggau, Akan tetapi dari kenaikan kelas ini, naik ke kelas 3 nya semua di seleksi untuk memilih jurusan yang mana yang akan diambil. Saya tak mau ambil pusing dan menentukan pilihan memilih jurusan IPS saja karena kalau mau masuk IPA kemampuanku terbatas, karena lemah didalam berhitung. Kami seluruh kelas 3, bagi IPS itu semua orang-orang atau siswa-siswi dipilih dan sudah dikelompokkan oleh pengurus sekolah dan disana sudah dijelaskan bahwa di dalam setiap kelas harus dimasukkan orang yang sedikit pintar-pintar karena ini akan menjadi daya saing antar kelas. Kami siswa yang kelas 3 hanya mempunyai 5 lokal diantaranya 1 untuk kelas IPA dan 4 untuk kelas IPS dan untuk kelas IPS ini telah diatur oleh kepengurusan sekolah nama-nama siapa saja yang akan dimasukan ke kelas IPS 1,2,3 dan 4. Pada akhirnya saya masuk ke kelas IPS 3 dan di kelas ini saya juga menemukan teman yang pernah 1 kelas dengan saya baik itu dari kelas 1 maupun kelas 2. kelas 3 dan lokal baru jadi kepengurusan baru, maka kami memilih siapa saja yang akan menjadi ketua kelasnya atau siapa saja yang sanggup, maka disana dipilihlah beberapa teman saya untuk bisa menjadi pngurus kelas dan orang-orangnya dipilih badannya sedikit besar agar sedikit disegani atau ditakuti.

Di kelas 3 ini saya memutuskan untuk pulang kerumah dan tidak lagi tinggal dirumah nenek karena saya berpikir ingin mencoba bagaimana sekolah kalau dari rumah saja dan bisa membantu orang tua walau hanya ada waktu sedikit. Di kelas 3 ini saya coba bekerja keras agar tidak tergantung dengan orang tau maka sehabis pulang sekolah sekitar jam 3 sore saya sampai dirumah dan istirahat 1 jam kemudian saya langsung pergi kekebun untuk menyadap karet yang tempatnya tidak jauh dari pemukiman hanya di tempuh 10 menit perjalanan dengan berjalan kaki. O ya di dalam menyadap karet/motong karet ini sudah saya tenuni sejak kelas 4 SD. Sejak kelas 4 SD saya sudah diajarkan oleh orang tua saya bagaimana cara menyadap karet dan belajar mencetaknya juga supaya menjadi petak dan bisa menghasilkan uang. Dialam menyadap karet ini sebanarnya keberanian saya pada waktu mengejakan/menyadap karet sendirian di kebun dimulai sejak kelas 5 SD karena dari sana saya sudah mulai melakukan keberania di hutan sendirian dan itu lama-kelamaan membuat saya berani dan tidak perlu lagi ditemani oleh orang tua. Di dalam menyadap karet ini sebenarnya hampir Setiap hari saya melakukan itu untuk bisa meringankan beban biaya yang dikeluarkan orang tua saya dan dari hasil karet tersebut saya gunakan untuk ongkos sekolah saja dan apabila ada pembayaran SPP atau pun pembayaran buku maka saya hanya bisa minta uang kepada orang tua untuk bisa menambah melunasi pembayaran yang kurang dari pembayaran tersebut. Mengenai sifat Saya, orangnya tidak pernah meminta apapun kepada orang tua apabila tidak ada kebutuhan yang mendesak, apapun yang orang tua berikan kepada saya, saya terima saja dan apabila ia bilang ini cukup apa tidak dan saya jawab ini sudah cukup, padahal sebenarnya ini masih kurang sedikit dan saya sebenarnya masih mempunyai 2 (dua) orang adek yang masih sekolah, dan yang paling kecil kelas 6 SD dan yang no 3 masih MTS sekolah di Pondek Pesantren Lukmanul Hakim yang ada di Kelurahan Petanang Ilir Kecamatan Lubuklinggau Utara I dan ia semua butuh biaya dari orang tua dan sifat mereka sedikit berbeda dengan saya karena apabila ada kemauan tak bisa/dapat ditahankan lagi, dan mereka juga merepotkan orang tua sebenarnya, saya selaku kakak mencoba selalu menasehati dan memberikan jalan agar tidak selalu memojokkan orang tua apabila ada kemauan dan itu perlahan-lahan bisa diterima oleh mereka.

Di rumah ini konsentrasi belajar saya kurang maximal karena disibukkan dengan kerjaan dikebun disore harinya dan bila malam hari biasanya saya gabung dengan teman-teman hingga sampai jam 12-an. Karena sering pulang malam orang tua saya bilang, Nak,, jangan lupa belajarnya nanti tidak lulus. Dari sini harapan orang tua sangatlah besar terhadap anaknya untuk bisa lulus tamat SMA dan saya juga berusaha semaximal mungkin untuk bisa menyenangi orang tua dan di kelas tiga ini orang tua saya juga bernazar, apabila anaknya nanti lulus maka ia semburkan beras sama kunyut di tanah sebagai pelepas beban yang orang tua tanggung selama ini dan juga bersyukur atas kelulusan saya. Dalam semester pertama dikelas 3 IPS 3 nilai yang saya hasilkan ternyata memuaskan dan membuahkan hasil juga walau hanya masuk 10 besar dari 40 siswa dan orang tua sedikt bangga juga melihat hasil tersebut walaupun anaknya ini jarang belajar. Memasuki semester kenaikan dan orang tua saya menyuruh agar tetap di rumah nenek saja agar konsentrasi belajar difokuskan, akan tetapi saya masih dirumah dan melakukan kebiasaan sehabis pulang sekolah yaitu menyadap karet. Kerjaan ini saya hentikan 1 bulan sebelum ujian nasional dilakukan dan saya tinggal lagi di tempat nenek untuk bisa belajar dan lulus dalam ujian dan ini menentukan masa depan dan harapan orang tua terhadap anaknya. Dalam ujian tersebut untuk IPS nya itu hanya Bahasa indonesia, Bahasa inggris dan ekonomi dan hasil ujian tersebut ternyata kita dinyatakan lulus kerena telah melewati target nilai standar Ujian Nasional, akan tetapi kalau melihat nilai yang ada di buku rapot kita masih bertahan di dalam 10 besar walau hanya rengking 8.

Dari lulus sekolah ini ada sebuah kebingunan dan kebimbangan karena banyak semua teman-teman untuk meneruskan keperguruan tinggi (kuliah), Kursus computer dan banyak juga yang tes untuk bisa menjadi Polisi dan tentara. Semua teman-teman sudah merencanakan sedangkan saya belum menentukan jalan yang mana yang akan dituju. Pada malam harinya semua keluarga berkumpul semua, ada bapak, ibu, kakak, dan adik-adik sambil nonton tv bersama dan disana lah saya utarakan keinginan diriku kepada orang tua yaitu untuk melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi lagi dan apila disetujui maka saya akan mengambil di bidang keagamaan Perguruan STAIN Curup atau di STAIS kota Lubuklinggau saja. Setelah selesai mengutarakan maksud saya maka orang tua saya menjawab dalam tahun ini belum bisa untuk kuliah karena sekarang ini adik-adik saya masih butuh biaya untuk sekolah dan orang tua juga meminta tolong untuk membantu adik-adik saya juga agar bisa lulus sekolah dan tahun depan saya bisa mengenyam/melanjutkan keperguruan tinggi apa yang telah saya inginkan. Dari penjelasan orang tua saya tadi sebenarnya sedikit terdapat kekecewa terhadap orang tua yang belum bisa mendukung anaknya untuk bisa mengenyam pendidikan perguruan tinggi, dan dari itu orang tua dan saya memberikan jalan kepada adik-adik saya agar sekolah dengan baik-baik dan jangan suka bolos ataupun berbohong karena kalau disekolahan kita sering mengikuti jejak teman, kalau mau bolos kita juga ikut bolos dan akibatnya akan patal dan orang tua akan dipanggil dan menghadap guru agar supaya kejadian tersebut jangan sampai terjadi.

Dari tamat sekolah ini saya mencoba untuk mencari kerja dan itu saya dapatkan karena diajak oleh teman saya untuk bekerja di sebuah rumah makan yang tidak jauh dari kota lubuklinggau. Bekerja di rumah makan ini waktu saya tak panjang/betah karena hanya 2 bulan saja, karena disana saya tidak tahan ataupun kerasan terhadap yang punya rumah makan tersebut, dan saya sebenarnya butuh kebebesan maka dari itu saya pamit dan ingin pulang dan mau mencari kerjaan lain saja dan itu diterima ibu yang mempunyai rumah makan tersebut. Hampir 1 bulan saya di rumah dan membantu orang tua saya maka saya kerumah nenek dan mamang dan mereka memberikan peluang jalan usaha yang sudah lama tidak dijadikan/dikerjakan selama ini kepada saya untuk mengelola Lahan sawah yang ada diRawa namanya sungai limau untuk bisa dijadikan sawah. Sawah yang berada di rawa tersebut sudah lama tidak dijadikan hampir 17 tahun lamanya dan ini tantangan bagi saya. Nenek saya bilang bahwa sebenarnya lahan yang ada sekarang ini adalah bagian kalian dan sudah diberikan kepada orang tua saya akan tetapi orang tua saya tidak bisa mengelola sawah tersebut di karenakan orang tua saya tidak bisa bertani sawah, dari penjelsan nenek tersebut saya baru mengetahuinya, maka untuk sekarang saya mulai mengelola sawah tersebut dari mulai yang paling awal, dari menebas, mengatur air dan membuat petaknya dan ini menjadi tantangn bagi saya karena banyak sekali ular-ular yang keluar dari semak belukar pada waktu mencetak kembali lahan ini untuk dijadikan sawah kembali.

Didalam membuat petak atau pematang ini waktu yang telah habis terpakai lebih kurang 4 bulan lamanya karena sawah ini adalah termasuk rawa-rawa juga dan masih banyak gambutnya. Menurut wawak, mamang dan yang lainnya kalau ada gambut di dalam pematang tersebut jangan dibuang dan gambut-gambut tersebut lama-lama akan lapuk dan menjadi pupuk.

Setelah proses pembuatan pematang selesai maka saya melakukan pembibitan padi untuk disemai, padi yang saya pilih adalah bibit padi serang, kebanyakan kata orang jenis padi ini sangat bagus dan tahan juga untuk daerah rawa. Maka awal pembukaan lahan ini saya semaikan bibit padi 1 kaleng lebih sedikit untuk ditanam. Dalam bertani menyemaikan padi pertama padi harus di jemur terlebih dahulu, dan ditampi kembali agar menghasilkan bibit yang benas/berisi, setelah itu maka bibit padi ini di rendam di air selama 1 malam lalu diangkat dikeringkan selam 1 hari, 1 malam dengan maksud agar ada Nampak mata padi/bintiknya yang keluar setelah itu baru disemaikan. Dari semaian tersebut bibit padi supaya bisa ditanam harus berumur diatas lebih kurang 20 keatas agar sedikit tua dan tidak mudah terserang penyakit. Sebelum bibit padi ini ditanam terlebih dahulu padi tersebut harus di semprot pakai Decis (bayer), Baycap terlebih dahulu agar tidak mudah diserang penyakit seperti ulat atau belalang.

Proses penanaman padi dilakukan selama 5 hari berturut-turut karena dikerjakan secara kekeluargaan, disana ada ibu, nenek, bibik, mamang, kakak, dan adik-adik yang ikut membantu dalam penanaman padi dan ini saling membatu sebab sawahnya berdekatan dengan kita. Pada waktu penanaman padi semua air dimatikan dan tidak boleh dimasukan air kedalam sawah, maka dalam waktu 5 hari atau 1 minggu barulah air bisa dimasukkan untuk bisa menghidupkan kembali tananam padi yang sudah ditanam. Dalam mengatur air ini terkadang air dimasukkan dan dikeringkan kembali selama 4 atau 5 hari dikarenakan fungsi pengeringan tersebut untuk membiarkan atau mengembangkan anak-anak bibit padi agar membiak walaupun bibit padi tersebut kita tanam hanya 2 atau 3 rumpun kemudian bisa menjadi 7 atau 8 rumpun.

Pada waktu bibit padi berumur sekitar 25-an keatas maka padi sudah waktunya untuk dipupuk dan disemprot agar ia mendapatkan makanan untuk kesuburan dan pembuahan dari hasil pupuk yang diberikan. Bertani sawah sebenarnya kita harus rajin untuk merawatnya terutama membuat rumput agar tidak tumbuh yang ada di dalam sawah ataupun di pematang sawah agar tidak mengganggu pembuahan padi dan agar hasilnya mendapat yang lebih baik. Kata orang bila bertani padi pada umur 100 hari, padi akan mulai menampakkan buahnya dan mendekati 4 bulan baru tanaman padi bisa dipanenkan. Lebih kurang pas 4 bulan padi yang kami tanam membuahkan hasil dan hanya bisa mencukupi untuk beberapa bulan dan sampai kepenaman berikutnya.

Pada bulan berikutnya saya melanjutkan kembali bersawah padi dan menggunakan bibit padi Mikongga, yang kami ambil dari dinas pertanian yang ada di Mirasi, konon katanya bibit ini bagus maka kami juga mencoba bibit tersebut untuk kami tanam dan ternyata hasilnya tidak jauh dari bibit padi yang sudah ditanam yang selama ini.

Tak lama kemudian dari bertani sawah saya pergi kebengkulu bersama Arif (Candra) dan Regen untuk mencari pengelaman yang lain dan sesampai di Bengkulu saya dan Regen (Nage) menuju satu Arah yaitu Daerah Penurunan sedangkan Arif menuju Rawa Makmur karena kembali ke kosannya dan untuk melanjutkan kuliahnya di UNIB jurusan pertanian. Sesampai di Rumah saya tidak menyangka rumah yang kami tempati ini digunakan untuk kantor namanya ALIANSI MASYARAKAT ADAT BENGKULU (AMA-Bengkulu) dan disana saya berkenalan dengan kakak-kakak yang lain yang bekerja di Ama-Bengkulu. Di Bengkulu pada awal sebenarnya hanya main dan jalan-jalan saja bersama Regen dan Arif akan tetapi bila ada kerjaan saya bisa bekerja juga. Di kantor Ama-Bengkulu ini saya hanya menginap 2 malam dan saya pergi ke Tempat kosan Arif dan nginap disana dan baru 2 hari ditempat Arif kebetulan arif ada kerjaan dan pulang ke lubuklinggau dan akan kembali selama 1 minggu dan otomatis saya sendirian disini, dan saya juga diberi amanat untuk bisa menjaga kosan dan barang-barangnya dan itu saya jalani selama Ia belum pulang kebengkulu lagi. Pada waktu ia kembali lagi kebengkulu dan saya juga mohon pamit untuk kembali lagi ke lubuklinggau lagi dan melanjutkan kerjaan seperti biasa dan membantu orang tua di kebun.

Beberapa bulan kemudian saudara regen pulang ke lubuklinggau dan tidak ingin lagi bekerja dibengkulu maka sebagai penggantinya adalah saya untuk bisa melanjutkan kerjaan saudara Regen. Maka saya diterima kerja di AMA-Bengkulu yang dipimpin oleh SEKJEN AMA-Bengkulu yaitu Bapak Erwin. S Basrin dan bertemu juga dengan Bapak Nazarudin yang sama-sama berasal dari lembak juga dan banyak bercerita juga bagaimana sebelum bekerja di Ama-Bengkulu setelah itu disuruh langsung menghadap bendahara yaitu Ayuk Messy selaku keuangan Ama-bengkulu dan disana saya dijelaskan secara detil-detilnya mengenai kerjaan di Ama-bengkulu. Di Ama-Bengkulu saya belajar dari yang awal atau dari yang NOL sama sekali tidak tahu hingga sampai tahu. Di Ama-Bengkulu ini ternyata juga ada Lembaga Akar yang Didirikan Oleh Bapak Erwin S Basrin dan Bapak Pipian Subirto. Di Kantor AMA-Bengkulu ini saya banyak mendapat pelajaran yang banyak dari kakak-kakak yang ada di AMA-Bengkulu, pengelaman yang berharga telah saya dapatkan dari kakak-kakak yang lain, dari memegang sapu, kuali, membuat kopi, belajar computer dan dikirimkan kelapangan untuk belajar bagaimana kehidupan masyarakat yang kita lihat dan itu lebih dari cukup yang saya dapatkan. Pada awalnya di dunia ini saya kurang mengerti apa maksud dan tujuan lembaga ini dan tahu-tahu di kantor ini ada sebuah kegiatan dan semua orang pergi kelapangan untuk mengadakan acara dan hanya saya sendiri yang menunggu kantor dan apabila mereka sudah pulang maka saya lihat kegiatan semakin banyak dan banyak hasil yang harus dibuat, dari mulai mengetik, menyalin kembali, poto-poto dan rekaman di ketik ulang sebagai bukti ada yang berbicara dan saya lihat bendaharanya sibuk membuat laporan keuangan beserta bukti-buktinya dan untuk mengeluarkan uang belanjar makan siang saya harus menanda tangani atas uang yang telah dikeluarkan dan sebagai bukti bahwa uang tersebut digunakan dengan benar dan ada buktinya. Disana peran kita pada waktu semua sedang sibuk saya hanya melihat-melihat saja dari belakang dari apa yang mereka kerjakan dan apa yang mereka tulis, bila ada kesempatan saya sekalian ikut belajar dan memperhatikan apa yang telah dilakukan. Bila pada waktu hari libur hari sabtu dan minggu saya sering belajar komputer sendiri mengulang kembali dari apa yang pernah saya lihat dan apabila ada yang saya tidak ketahui maka saya maka saya akan bertanya langsung kepada kakak-kakak yang lain bagaimana cara melakukan ini agar bisa.

Di Ama-bengkulu lama kelamaan di dalam belajar computer saya juga bisa perlahan-lahan diajarkan oleh kakak-kakak disana ada kak Hadianto kamal, Pipian Subirto, Zulmi, Jhon Heri, Ayuk Messy , ayuk Titin, Ayuk Ami, Nazarudin dan Kak Erwin. Di Ama-Bengkulu saya sebanarnya kurang berani memakai computer dikarenakan takut rusak dan ada data yang hilang akan tetapi saya selalu melihat terlebih dahulu apa yang telah dikerjakan yang lain, setalah itu saya meniru dan prakteknya secara langsung.

Dari sinilah saya belajar berorganisasi, bagaimana peran yang bisa dilakukan setiap orang sesuai dengan kemampuannya sendiri, ternyata belajar ini penuh dengan tahap-tahapan dan tidak semudah membalikkan telapak tangan atau yang kita bayangkan dan semua itu harus ditekuni atau dimulai dari bawah. Di AMA-Bengkulu setiap orang mempunyai tugas masing-masing, disana ada Pelaksana Harian Ama-Bengkulu Pak Sekretaris Jenderal (Sekjen), Bendahara, Deputi, Managemen Program, Data Base, Coordinator Organizasi, dan Kepala Kantor.

Di Ama-Bengkulu ini saya banyak belajar dan mendapatkan pelajaran yang tidak pernah saya dapatkan selama perjalanan hidupku di Kota Lubuklinggau, di sana tugas yang diberikan Pak Sekjen (Erwin S Basrin) kepada saya sebenarnya begitu berat karena segala yang berurusan dengan kantor kita yang mengaturnya, mulai dari bersih-bersih, mengatur biaya pengeluaran logistic kantor, menyimpan barang berupa data-data, kamera, handy cam, kunci dll. Dan juga menerima surat masuk pada waktu-waktu tidak menentu harinya. Terkadang pada hari sabtu dan minggu banyak juga surat yang masuk atau ada kiriman paket dari lembaga-lembaga lain. Pengiriman tersebut yang selama ini saya terima lewat POS dan TIKI.

Selama di Ama-Bengkulu sebenarnya semua orang diberikan kesempatan belajar untuk bisa seperti apa yang telah dilakukan dan sesuai dengan kemampuan dan kecerdasan yang ditangkap. Di Ama-bengkulu juga sering di adakan rapat mengenai dari dalam tubuh Ama-Bengkulu itu sendiri dan keluarnya juga. Biasanya bila ada rapat maka akan ada banyak program yang akan dilakukan dan dikerjakan di beberapa daerah. Ama-Bengkulu sebenarnya mempunyai 25 komunitas adat dan semua itu ada yang mewakilinya semua, disamping itu di Ama-bengkulu juga ada Pelaksana Wilayah (PW), dan ada juga Dewan Adatnya juga.

Selama di Ama-Bengkulu kasus-kasus yang telah dikerjakan oleh Ama-Bengkulu dan Akar Foundation yaitu membantu penyelesaian kasus tapal batas antara lebong dan Bengkulu utara dan selanjut kasus PT Bumi Mega Sentosa (BMS) Padang Ulak Tanding kebupaten Rejang Lebong. Kasus ini berawal tanah rakyat akan dijadikan sebagai tranmigrasi dan pelaksanaan tersebut ditolak oleh masyarakat dan kasus Tranmigrasi ini juga banyak melibatkan Ngo yang lain seperti Walhi, Kalam, F_Perjuangan Masyarakat adat Lembak dan beberapa elemen aktivis yang terlibat langsung dalam memsuport kasus tranmingrasi ini. Pada akhir kasus tranmingrasi ini berhasil ti tolah dan izin pengelolaan PT BMS tidak jadi dilaksanakan dan masyarakat kota padang bisa menikmati hasil panennya dengan tenang dan tidak perlu lagi meresa di rugikan.

O ya untuk sekarang ini mengenai keluarga saya sebenarnya kami hanya 4 saudara akan tetapi lelaki semua. Untuk kini kakak saya yang paling tua Namanya Sanca Firdaus, sudah merid dan mempunyai putri satu sedangkan saya masih bekerja di LSM AKar Bengkulu dan adik saya yang nomor tiga namanya Randi Satria untuk sekarang ini sedang melakukan kursus membengkel di Kota Palembang dan yang paling kecil, nomor empat namanya Dalung Putra, untuk saat ini sedang melanjutkan kuliah di STIE di kota lubuklinggau dan mengenai saya sendiri untuk sekarang ini saya masih bekerja di Lembaga Swadaya Masyarakat(LSM) Akar Foundation, sebagai Communiti Organization.

ini adalah cerita pribadi saya yang sengaja saya tulis untuk mengetahui perjalanan hidup yang telah saya lalui dan yang telah saya tempuh dalam bertahun-tahun ini dan kalau saya pikir-pikir bahwa umur kita sebenarnya tidak bertambah dan selalu berkurang setiap tahunnya dan bagaimana baiknya kita menggunakan umur ini dengan sebaik-baik mungkin.

Selanjutnya......
 
This blog powered by Blogger. Template designed by Go Blog Template